|
Sertifikasi Dosen (Serdos) bertujuan menilai profesionalisme dosen, guna meningkatkan mutu pendidikan. Dari Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, juga Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2007 tentang Sertifikasi, diketahui bahwa sertifikasi dosen memang sangat diperlukan. Meskipun demikian tidak mudah mendapatkannya mengingat proses dan prasyarat yang harus dimiliki cukup banyak. Diantaranya adalah dosen tetap dan sekurang-kurangnya telah bekerja dua tahun, jabatan akademik asisten ahli, kualifikasi akademik S2, beban akademik 12 SKS persemester dua tahun terakhir. Mengingat di PNJ banyak dosen yang sudah memenuhi syarat, kemudian dibuat rambu-rambu penetapan calon peserta sertifikasi yang diurutkan atas dasar: pertama, jabatan akademik; kedua, pendidikan terakhir; dan ketiga daftar urut kepangkatan. Di tahun pertama sertifikasi diadakan, PNJ mendapat kuota sebanyak 36 orang, setelah berkas porto folio peserta sertifikasi dikirim ke PTP-Serdos Universitas Indonesia sebanyak 34 peserta dan dua peserta ke Universitas Negeri Jakarta. Hasilnya diketahui bahwa yang dinyatakan lulus sebanyak 28 orang. Kesulitan panitia Serdos, kiat-kiat mendapatkan sertifikasi, dan beberapa pendapat tentang serifikasi dipaparkan oleh rekan-rekan Dosen PNJ di bawah ini. Wahyuni Susilowati Wahyuni adalah panitia penilai persepsional sertifikasi tahun 2008, dari jurusan Teknik Sipil PNJ. Ketika melaksanakan tugasnya Yuni (panggilan akrabnya) merasakan suka dan dukanya, berikut penuturannya kepada Warta. Karena pelaksanaan Serdos baru pertama kali, maka belum sistematis. Contoh, seharusnya pekerjaan dibuat rangkp dua, karena ketidaktahuan dibuat rangkap satu, akhirnya diulang. Tidak ada pengalaman, salah satunya yang buat stres sepertinya pekerjaan tidak kunjung selesai dan lainnya karena tidak ada pembekalan di awal. Yuni meyakini semua panitia Serdos dalam melakukan pekerjaannya tidak ada keseragaman persepsi, mengira-ngira saja dari buku petunjuk. Belum lagi saat pengisian dari teman sejawat dosen, ada yang kurang responsif, tidak ada beban moril saat mengisi data. Bahkan ada yang tidak mau mengisi, namun beberapa rekan serius, karena mengetahui “mati hidupnya” teman tergantung apa yang ia tuliskan. Memegang rahasia merupakan kesulitan lain, ada yang ingin mengetahui hasilnya, padahal selain ada aturannya memang seharusnya rahasia, karena dapat mempengaruhi hubungan sesama dosen, juga mahasiswa. Meskipun demikian Yuni memaklumi, rekan dosen melakukan itu, karena ada kekhawatiran tidak lulus. Sedangkan sukanya menurut Ibunda Adit dan Tata ini, ia lebih mengenal teman, karena harus berinteraksi langsung, tidak boleh dititip, saat mengisi ditunggu. Mengingat banyak orang yang mengisi data (satu orang mendapat penilaian dari satu atasan, tiga teman sejawat, dan lima mahasiswa) sebenarnya lebih banyak yang merespon positif dari yang tidak. Penentuan teman sejawat, dan mahasiswa didapat dari hasil diskusi dengan ketua jurusan, teman sejawat sesuai bidang keahlian, mahasiswa yang pernah diajarkan dosen yang bersangkutan (diutamakan yang beberapa kali). Ke depan menurut Yuni dia sudah mempunyai pengalaman dan dapat mengambil ancang-ancang.
Hidjan AG “Serifikasi diperlukan, alasannya karena dosen-dosen yang sebenarnya kurang memenuhi syarat, dalam proses sertifikasi dapat dinilai kualifikasinya oleh pihak yang berkompeten”, demikian menurut Hidjan, dosen jurusan Teknik Sipil PNJ. Pria yang mengajar fisika ini, termasuk yang lolos dan mendapatkan sertifikasi di tahun 2008. Ketika dinyatakan tentang kesulitan mendapatkannya, pria yang rajin menulis dan meneliti ini mengatakan “relatif”. Jika sudah banyak penelitian, jam mengajar, dan pengabdian kepada masyarakat, maka tinggal dikumpulkan saja data-datanya. Sebaliknya bagi yang belum, agak sulit untuk mengisi porto folionya. Sedangkan kiat-kiat agar lolos Serdos diutarakan oleh Hidjan, “Penuhi persyaratan yang diperlukan, semua yang kaitannya dengan akademik jangan hilang, arsipkan dengan baik”.
Nur Fauzi Soelaiman Serdos menurut Nur Fauzi Ketua Jurusan Teknik Elektro, disamping reward, juga mentaati PP tentang Sisdiknas, dan memotivasi dosen yang belum S2, sehingga banyak dosen yang termotivasi melanjutkan kuliah. Sebenarnya semua dosen yang memenuhi syarat, dapat disertifikasi tapi quota terbatas. Sehingga dibuat mekanisme sedemikian rupa sehingga yang mendapatkan terlebih dahulu adalah yang layak. Seharusnya yang mendapat giliran serdos dapat membuktikan kepakarannya dalam deskripsi diri. Dan Nurfauzi melihat penialian Serdos “fair” karena yang menilai adalah teman sejawat dan mahasiswa, dan dampaknya positif karena dosen akan menjalin hubungan baik dengan mahasiswa, teman sejawat, dll.
Heri Abrianto “Kesukaran terdapat pada responden, responden adalah mahasiswa semester akhir, sewaktu data ulang rupanya terdapat berita acara yang harus ditandatangani, sedangkan responden sudah lulus, terpaksa responden diganti lagi”, demikian Heri menjelaskan tentang pengalamannya saat melakukan tugas menjadi panitia Serdos jurusan Akuntansi. Kemudian menurutnya lagi “Sampai batas akhir pengumpulan, data masing-masing dosen dikumpulkan dua amplop, karena terdapat dua assessor, kemudian informasi datang terlambat, mungkin karena baru pertama kali, ternyata harus digabungkan satu amplop, jadi pekerjaan diulang”. Ke depan Heri mempunyai harapan agar PNJ memberi informasi yang lengkap, termasuk peserta Serdos, panitia, sehingga dapat dipersiapkan dari sekarang responden misalnya. Dan tentang Serdos Heri memberikan komentar sebagai berikut “Cuma untuk mensejahterakan dosen kok masih diragukan lagi”.
Indri Neforawati “Sertifikasi dosen? kenapa baru sekarang!”, demikian komentar Indri dosen jurusan Teknik Elektro saat ditanya tentang Serdos. “Mungkin karena tuntutan di bawah sudah tidak bisa ditawar lagi, seperti demonstrasi yang dilakukan masyarakat pendidik, maka akhirnya timbul kesadaran di tingkat pusat untuk memberikan anggaran pendidikan yang 20%. Dan tidak etis kalau memberikan tiba-tiba tanpa mencerdaskan, sehingga harus memberikan stimulus, Serdos adalah cara yang “sekolahan”” menurutnya, dan tentang dosen yang belum mendapatkannya, “Oh itu … perlu jiwa besar’ tambahnya lagi.
Sunarto Sunarto (Dosen Teknik Mesin) mengalami kesulitan saat proses sertifikasi dosen, mengingat sosialisasinya kurang, proses pengisian porto polio khususnya evaluasi diri sulit untuk memberi jawaban yang tepat. Selain itu dibutuhkan waktu yang cukup panjang sampai penentuan hasilnya, namun perjalanan panjang tersebut sirna dengan lulusnya Sunarto sebagai dosen yang tersertifikasi, harapannya tunjangan dosen tersertifikasi segera dapat dinikmatinya.
|
|