| Politeknik sebagai lembaga pendidikan vokasi dengan program diploma berorientasi menyediakan calon pekerja yang memiliki keterampilan dan kompetensi yang tinggi dan siap untuk langsung terjun di tempat kerja masing-masing. Sementara itu, masyarakat pada umumnya masih lebih memilih jenjang pendidikan akademis dengan program strata yang berorientasi pada bidang keilmuan.
Untuk lebih memperkenalkan pendidikan politeknik dan dalam rangka menyongsong ulang tahun Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ke 25, PNJ menyelenggarakan seminar dan diskusi bertema ""Pendidikan Politeknik menyongsong penyediaan tenaga terampil dan kompeten di bidang rekayasa dan tata niaga"" yang berlangsung Selasa, 13 Pebruari 2007 di Gedung Direktorat PNJ.
Pendidikan Poltek berdasar kebutuhan industry
Acara ini dihadiri oleh Kepala Sekolah dan Guru BP atau yang mewakilinya dari SMA/SMK wilayah Jabodetabek. Pembicara pertama adalah Direktur PNJ, Heddy R. Agah menyampaikan makalah dengan judul ""Karak-teristik Pendidikan Politeknik dan Proses Pembelajaran"". Beliau menyampaikan bahwa pendidikan politeknik didasarkan atas kebutuhan tenaga kerja di dunia industri. Pendidikan politeknik berjenjang diploma dilaksanakan berdasarkan terminasi dan tingkat kompetensi. Pendidikan lanjutan dari setiap jenjang diploma harus melalui program matrikulasi. Gelar akademik dikeluarkan pada setiap jenjang. Diploma I dengan gelar Ahli Pratama (A.P.); Diploma II dengan gelar Ahli Muda (A.M.); Diploma III dengan gelar Ahli Madya (A.Md.); Diploma IV dengan gelar Sarjana Sains Terapan (SST). Sesi selanjutnya adalah panel diskusi yang mengedepankan kolaborasi industri dan pendidikan politeknik, strategi efektif dalam menciptakan lulusan yang kompeten dan berdaya saing. Pembicara pertama, Sony Teguh Trilaksono, Head of Jabodetabek Regional Office PT INDOSAT, Tbk berbicara tentang terobosan yang harus dilakukan oleh pendidikan di Indonesia dengan cara mengembangkan kompetensi dan dimensi kecerdasan lain seperti intellectual, emotional dan adversity serta kerjasama institusi pendidikan dan industri sebagai mitra eksternal untuk mengejar ketinggalan sistem pendidikan saat ini serta memperkecil gap antara sistem pendidikan dengan tuntutan lingkungan global. Pembicara kedua dalam sesi ini, I Ketut Salam dari Asosiasi INCCA menyampaikan hal yang sama bahwa lulusan dikategorikan siap pakai bila mampu berperan dalam penciptaan nilai tambah dalam tahapan proses bisnis di tempat tugasnya. Dan selanjutnya ditegaskan bahwa untuk menjadikan siap pakai atau mempersempit supply and demand gap, harus dibangun kolaborasi permanen antara institusi pendidikan, asosiasi industri terkait dan anggota asosiasi industri. Sebagai pembicara penutup, tokoh pendidikan nasional, DR. Arief Rahman menyoroti bahwa kesuksesan pendidikan dapat dilihat dari tingkat ketaqwaan, kepribadian yang matang, penguasaan ilmu mutakhir dan berprestasi, memiliki rasa kebangsaan dan berwawasan global. Selanjutnya disoroti juga pendidikan profesional yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu serta sikap dan keterampilan yang harus dikembangkan di perguruan tinggi."
|